Bagaimana melakukan skrining kanker paru?

Cui Nianji

Jabatan:
Pakar Terkemuka di Pusat Diagnosis dan Perawatan Presisi Onkologi Medis Foshan Chancheng
Gelar:
Kepala Dokter

Konsultasi Gratis

·     Skrining

(1)Pemeriksaan Terkait

·       Pemeriksaan Radiologis

Rontgen Dada

Pemeriksaan ini dapat membantu mengetahui lokasi kanker paru, ukurannya, sejauh mana penyebarannya ke jaringan sekitarnya, serta adanya perubahan peradangan yang menyertai. Pemeriksaan ini merupakan salah satu metode penting dalam mendeteksi kanker paru. Ciri khas yang sering muncul pada hasil pemeriksaan adalah “bayangan berbentuk S terbalik” (juga dikenal sebagai “tanda S terbalik”), yang merupakan salah satu indikator klasik dalam diagnosis kanker paru.

CT Scan

CT scan dada memberikan informasi lebih rinci mengenai lokasi dan luas lesi, serta membantu memperkirakan apakah tumor bersifat jinak atau ganas. Saat ini, CT scan merupakan salah satu metode utama untuk mendiagnosis kanker paru. Di antara berbagai jenis CT, low-dose spiral CT scan (CT spiral dosis rendah) semakin banyak digunakan dalam deteksi dini dan skrining kanker paru stadium awal.

Magnetic Resonance Imaging (MRI), USG (B-ultrasound), Emission Computed Tomography (ECT), dan Positron Emission Tomography-Computed Tomography (PET-CT) merupakan metode yang sangat bermanfaat untuk menilai penyebaran (metastasis) kanker paru ke jaringan lain, seperti otak, kelenjar getah bening, dan tulang.

 

·   Pemeriksaan Endoskopi

Pemeriksaan ini memungkinkan pengamatan langsung terhadap lesi, serta pengambilan sampel jaringan atau sel dari area yang dicurigai, sehingga sangat membantu dalam penegakan diagnosis patologis.

 

Bronkoskopi

Merupakan salah satu metode utama dalam diagnosis kanker paru, bronkoskopi memungkinkan pengamatan langsung terhadap lesi di dalam saluran bronkus, dan paling sesuai untuk mendeteksi kanker paru tipe sentral. Bila diperlukan, dapat dilakukan biopsi kelenjar getah bening mediastinum dengan panduan USG (endobronchial ultrasound-guided transbronchial needle aspiration, EBUS-TBNA) untuk memastikan diagnosis patologis.

 

Mediastinoskopi

Saat ini merupakan standar emas dalam evaluasi klinis kondisi kelenjar getah bening mediastinum pada pasien kanker paru. Prosedur ini terutama digunakan pada kasus dengan metastasis kelenjar getah bening mediastinum yang tidak cocok untuk pembedahan dan tidak dapat ditegakkan diagnosis patologisnya melalui metode lain.

 

Pemeriksaan Endoskopi

Dengan bantuan torakoskopi, lesi kecil di paru, kelenjar getah bening yang mencurigakan, pleura, dan perikardium dapat diangkat dan diperiksa untuk keperluan diagnosis. Prosedur ini memungkinkan diagnosis yang akurat serta penentuan stadium klinis kanker paru. Torakoskopi cocok digunakan pada kasus yang tidak memungkinkan pengambilan sampel patologis melalui bronkoskopi atau biopsi jarum transtorasik, maupun pada pasien yang disertai kelainan pada pleura.

 

·     Pemeriksaan Patologi

Pemeriksaan Sitologi

Pemeriksaan sitologi terhadap sel-sel yang diperoleh dari endoskopi, biopsi jarum halus, cairan pleura, atau dahak dapat digunakan untuk melakukan diagnosis awal kanker paru.

Pemeriksaan Histopatologi

Pemeriksaan jaringan paru secara mikroskopis merupakan standar emas (gold standard) dalam menegakkan diagnosis kanker paru.

 

·       Pemeriksaan Genetik

Pemeriksaan genetik pada jaringan tumor, seperti deteksi mutasi gen EGFR serta fusi gen ALK dan ROS1, sangat bermanfaat untuk menentukan terapi target yang dipersonalisasi bagi pasien kanker paru.

 

·      Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium meliputi hitung darah lengkap, fungsi hati dan ginjal, serta pemeriksaan biokimia dan imunologi lain yang diperlukan, termasuk tes fungsi pembekuan darah. Pemeriksaan ini penting untuk menilai kondisi umum pasien sebelum dan sesudah tindakan medis.

Penanda tumor seperti CEA (Carcinoembryonic Antigen), NSE (Neuron-Specific Enolase), CYFRA21-1 (Fragmen Sitokeratin 19), ProGRP (Progastrin-Releasing Peptide), dan SCC-Ag (Squamous Cell Carcinoma Antigen) dapat diperiksa secara kombinasi, dan memiliki nilai referensi tertentu dalam mendukung diagnosis kanker paru.


89178c48-609b-4756-8475-71470e424013.png.jpg


(2) Diagnosis Banding

Kanker paru yang khas umumnya mudah dikenali, namun dalam beberapa kasus dapat disalahartikan sebagai penyakit lain, seperti:

 

·       Tuberkulosis paru (TBC)

Gejala seperti batuk darah (hemoptisis) dapat menyerupai kanker paru. TBC lebih sering terjadi pada anak-anak dan dewasa muda, serta disertai gejala khas seperti demam ringan di sore hari dan keringat malam. TBC biasanya merespons dengan baik terhadap pengobatan antituberkulosis. Pada pemeriksaan patologis, TBC menunjukkan keberadaan basil tuberkulosis, sedangkan pada pemeriksaan sitologi kanker paru akan ditemukan sel-sel kanker.

 

·       Pneumonia

Peradangan paru yang berlangsung lama dapat membentuk massa radang menyerupai tumor jinak (pseudotumor inflamasi), sehingga mudah disalah artikan sebagai kanker paru. Pneumonia biasanya dimulai secara akut, disertai gejala seperti menggigil, demam tinggi, dan tanda infeksi lainnya. Pada pemeriksaan patologi, tidak ditemukan sel kanker. Bila pneumonia berulang di lokasi yang sama, perlu dicurigai adanya sumbatan akibat tumor. Dalam kasus seperti ini, biopsi jaringan pada area yang mencurigakan perlu dilakukan untuk memastikan diagnosis.

 

·     Abses Paru

Abses paru terjadi akibat proses supurasi (penumpukan nanah) yang membentuk rongga di jaringan paru, dan sering kali disalahartikan sebagai kavitas pada kanker paru. Abses paru umumnya memiliki onset akut, dengan gejala khas seperti menggigil, demam tinggi, batuk, dan dahak bernanah berbau busuk. Sebaliknya, pada kanker paru, gejala seperti ini biasanya baru muncul setelah terjadi nekrosis sekunder. Pemeriksaan patologis untuk mendeteksi keberadaan sel kanker menjadi kunci untuk membedakan kedua kondisi ini.

 

·      Kriptokokosis Paru

Lesi pada kriptokokosis paru umumnya berbentuk nodul tunggal atau multipel, dan perlu dibedakan dari nodul kanker paru. Pasien sering kali memiliki riwayat kontak dengan burung merpati atau kotorannya. Pemeriksaan antigen kriptokokus dalam serum biasanya positif, dan diagnosis ditegakkan melalui pemeriksaan patologi yang menunjukkan keberadaan jamur penyebab infeksi.

 

·   Tumor Jinak Paru

Contoh tumor jinak paru meliputi hamartoma, fibroma, dan sclerosing pneumocytoma. Secara klinis, sebagian besar kasus bersifat asimtomatik (tidak menimbulkan gejala). Pada radiografi toraks (X-ray), biasanya tampak sebagai massa bulat dengan tepi halus, tanpa gambaran spikula atau lobulasi. Pemeriksaan patologi tetap menjadi metode utama untuk membedakan tumor jinak dari kanker paru.

 

·        Limfoma Maligna Mediastinum

Secara klinis, kondisi ini sering disertai demam dan batuk. Pada pemeriksaan radiologi, tampak nodul berbatas berlobus yang menyerupai metastasis kanker paru di mediastinum. Namun, iritasi bronkus seperti batuk hebat dan batuk tersedak jarang terjadi, dan tidak ditemukan sel kanker dalam sputum — ini menjadi pembeda utama dari kanker paru.




Kisah pasien kanker paru:

Penderita Kanker Paru Stadium 3 Bisa Hidup Selama 7 Tahun Lagi Dengan Cara Ini!


Pendaftaran Konsultasi

Kirim
Ikuti Kami
Pendaftaran Konsultasi
Kirim
Book Appt.
Call Us
Telephone
+62 811998896
+62 811188251